Selasa, 2007 Agustus 28

FORUM DISKUSI ENERGI

Dear All,

Ada baiknya mulai sekarang saya buka suatu forum diskusi terbuka antar, dari, dan untuk penggemar, penggiat maupun pemerhati energi khsusunya yang terbarukan.
Diskusi ide dan sharing pengalaman dari komunitas ini, akan sangat berguna bagi yang membutuhkan.

Salam hangat.
suyitno


Berikut sumarry beberapa diskusi via email yang saya buka di forum ini
---------------
From: wendy.*********@hso.*****.**.**
Tanggapan:
wah boleh juga tuh pak dari kayu ... kayu disini masih banyak banget, maklum hutan semua, hehehehe .. lagian daripada kayu di sini pada di curiin pengusaha2 ilegal logging mending di manfaatin ...
Sekarang pilot plantnya di garap dmn pak ? kayaknya dicoba di papua boleh juga tuh ... Karena selain PLTD, praktis tdk ada pembangkit tenaga listrik yang lain. Memang daerahnya berbukit2 tapi tdk ada sungai besar yang mengalir dari atas yang bisa dimanfaatin untuk PLTA .... Tapi butuh berapa kg kayu ya buat gantiin katakanlah per 1 liter solar ?
Tanggapan saya:
Mas Wendy, pertanyaan yg bagus...Kalau pilot plantnya sudah dikerjakan di Austria th 2001. Sedang di Indonesia ada perusahaan dari Australia yang membuat pilot plant di daerah rajamandala. Btw, memang jenis teknologi ini jangan dibandingkan dengan teknologi konvensional solar, gasoline, PLTU atau bahkan PLTNuklir. Mengapa,1. biomass termasuk renewable artinya bisa diadakan. Jika kita menanam rumput terus dipanen khan masih dapat ditanam lagi itu rumput... lha kalau solar, bensin?2. Kalau dihitung dari sisi nilai kalor jelas biomas punya nilai kalor jauh di bawah solar, batubara apalagi dari bensin. Tetapi teknologi ini cukup sederhana (kecuali sisi after treatmentnya) dan bahan bakarnya bisa berupa sampah biomas. Sebagai gambaran sederhana, dengan 1 kg biomass/jam dapat dihasilkan daya kira-kira 1 kWel (hampir separo dari PLTD).3. Bukankah harga biomass lebih murah (?) dibanding solar. ya... begitu gambarannya teknologi gasifikasi ini...silakan kunjungi http://kajian-energi.blogspot.com/search/label/gasifikasi. Saya buat penjelasan sederhana tsb disela2 pekerjaan saya. jadi memang belum utuh. semoga berguna.


---------------
From: Uki_*********@app.**.**
Pak, teknologinya gimana (gasifikasi, red). Apakah sudah bisa kita jangkau, terutama untuk daerah pedalaman gt. dan kepraktisan dan efisiensinya gimana pak.

Tanggapan:
untuk daerah pedalaman, teknologi bisa disesuaikan. Yang susah adalah mengajari teknisi dan masyarakat (pemakai teknologi ini). Bisa dibayangin teknologi ini adalah melibatkan mekanik, kontrol dan kimia. Kontrol tentu bisa digantikan dengan manual untuk daerah pedalaman, tetapi pengetahuan teknisi harus cukup untuk mengerti proses yang ada didalamnya sehingga bisa cepat menangani kalau terjadi perubahan, misalnya kalau temperatur turun, maka udara harus ditambah dan seberapa banyak, dst... ini yg saya maksud teknisi harus diajari dan kadang tidak mudah...biasanya butuh minimal 1 tahun pelatihan baru ngeh itu teknisi.

untuk mekanik ya... bisa juga digantikan dengan manual. Kalau tidak ada listrik untuk menggerakkan motor dan konveyor bisa digantikan dengan manual dan memanfaatkan gaya gravitasi. tetapi biar manusianya tidak terlalu capek ya sepertinya motor tetap diperlukan yang bisa dikopel dari listrik yg dihasilkan.

Bahan utama adalah plat atau pipa. Dengan temperatur operasi antara 900-1100 derajat celcius, maka bata tahan api diperlukan dibeberapa bagian. Kalau plat atau pipa tidak ada, bisa dibangun dengan batu bata dimana dibagian dalamnya pakai bata tahan api. Sedangkan untuk listrik bisa digunakan mesin diesel standar.

Apa lagi? Oh ya... panas yang tersisa juga bisa digunakan untuk pengeringan produk (misalnya produk pertanian) atau bahkan untuk memanaskan/mendidihkan air.

Demikian gambarannya... simple kan...

------------------------------------

From: Muizuddin **** a***@jibuhin******.***

Wah..wah, hebat nich teknologinya. Disamping skrg ada nano technologi. Ada nich, teknologi buat daerah pedalaman dg menggunakan peralatan yang ada. Kalo dilihat daerah papua banyak gunungnya. Emang aspek gravitasi lebih enak digunakan karena lebih konstan dan "ga perlu bayar". Saya jadi teringat ttg diskusi pendidikan sebelumnya. Gmn ya, kalo kuliah itu jg diajarin "soft skill" seperti membuat team u/ mengerjakan plant project. Kalo dulu KKN lah. Disamping pengetahuan dan pemahaman ttg ilmu itu sendiri. Coz pengalaman dulu waktu kuliah cuma D3C (Datang, Duduk, Dengar dan Catat). Dan SKS (Sistem Kebut Semalam). Saya mau tanya Pak. Ttg efek dari teknologi ini, Ada efek dari reaksi kimia yg dihasilkan ga?

Tanggapan saya:
Dear Pak Mantan Presiden Muiz,

Tanggapan pertama, kalau mau soft skill itu tempatnya mesti di ektrakurikuler. Lha kalau mau dimasukkan jadi intra apa mau mahasiswa lulus lebih lama ....=). Silakahkan beri komen kalau ada pendapat beda.

Kedua, tentang efek reaksi kimia yang jelas ada. Tidak ada teknologi yang tidak berefek (-). Tugas engineer adalah meminimalisasi efek itu. Turbin angin, misalnya yg dibilang environmental friendly tetap menghasilkan kebisingan pada tingkat beberapa db.
Nah teknologi gasifikasi itu yg dihasilkan gas-gas CO, CH4, H2, CO2. CO jelas sekali bahaya kalau terhirup. CH4 dan H2 bisa menyebabkan ledakan. Terus ada lagi yang dihasilkan yaitu dust, soot atau fine particle. Beberapa logam juga terdapat dalam ash-nya. Terus yang jadi kendala utama saat ini adalah condensable tar. Itu tar kalau masuk ke sungai dalam konsentrasi tertentu dalam beberapa jam, ikan akan mati.
Mudah2an menjawab.

Matur nuhun dan tetap semangat buat semuanya.